Mahasiswa KKN UNS Kelompok 295 Ajak Warga Karangjati Olah Limbah Kain Perca jadi Produk Kreatif Melalui Pelatihan Tapestry Pouch


Mahasiswa KKN UNS Kelompok 295 Ajak Warga Karangjati Olah Limbah Kain Perca jadi Produk Kreatif Melalui Pelatihan Tapestry Pouch 1 September 2025 pukul 19.00 UNS Berdampak Mahasiswa KKN UNS Kelompok 295 Ajak Warga Karangjati Olah Limbah Kain Perca jadi Produk Kreatif Melalui Pelatihan Tapestry Pouch UNS – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kelompok 295 mengadakan program “Pelatihan Tapestry Pouch : Pemanfaatan Limbah Kain Perca untuk Produk Kreatif”. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Karangjati, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UNS yang juga menjadi Ketua Pelaksana Program, Jessica Olivianti mengatakan, Desa Karangjati dikenal memiliki potensi besar di bidang industri rumahan seperti penjahit dan konveksi. Namun, kegiatan tersebut menghasilkan limbah kain perca dalam jumlah banyak yang sering kali hanya ditumpuk, dibakar, atau dibuang. Padahal, limbah ini bisa diolah kembali menjadi produk yang berguna sekaligus bernilai jual. Pada tanggal 1 Agustus 2025, bertempat di Rumah Ketua RT 16 Desa Karangjati, mahasiswa KKN UNS melakukan pelatihan diikuti oleh 42 ibu-ibu PKK RT 16 yang sebagian besar berprofesi sebagai penjahit dan pekerja konveksi. Kegiatan ini sengaja dirancang untuk memberikan wawasan baru sekaligus keterampilan praktis kepada masyarakat. “Kami ingin menunjukkan bahwa limbah kain perca bukan sekadar sampah, tetapi bisa disulap menjadi produk bernilai ekonomi. Harapannya, keterampilan ini dapat membuka peluang usaha kecil bagi ibu-ibu di Karangjati,” ungkapnya kepada uns.ac.id , Senin (1/9/2025). Pelatihan diawali dengan perkenalan tim KKN dan sosialisasi mengenai dampak negatif limbah kain perca. Dalam diskusi, peserta mengaku kain sisa potongan dari menjahit sering kali dibakar atau dibuang. Menyanggapi hal tersebut, tim KKN UNS memperkenalkan teknik tapestry pouch sebagai solusi kreatif pemanfaatan limbah. Sebelum praktik, peserta dikenalkan dengan teknik tapestry, yakni seni tekstil yang mirip anyaman dengan menyusupkan benang secara silang pada benang lungi. Teknik ini dipilih karena unik, bernilai estetika tinggi, dan belum banyak dipasarkan pada produk fashion sehingga berpotensi memiliki nilai tambah di pasar. Seluruh alat dan bahan, termasuk kain perca yang sudah digunting menjadi benang, disediakan oleh tim KKN. Untuk memastikan semua peserta terlibat aktif, pengerjaan dilakukan secara berkelompok dimana satu pouch dikerjakan lima orang, dengan masing-masing mengerjakan satu sisi. Pada sesi praktik, peserta terlihat antusias menyusun benang kain perca ke dalam rangka pouch menggunakan teknik soumak hingga membentuk pola yang menarik. Salah seorang peserta, Rina, mengungkapkan kesannya. "Biasanya saya hanya menjahit tas atau dompet dengan cara biasa. Ternyata ada teknik lain yang hasilnya lebih unik seperti ini. Saya senang sekali mendapat pengalaman baru," ujarnya sambil tersenyum. Meski proses pembuatannya cukup memakan waktu, para peserta tetap berusaha menyelesaikan produk hingga akhir. Dari kegiatan ini, dua kantong berhasil selesai sepenuhnya, sementara sisanya dilanjutkan di rumah karena keterbatasan waktu pelatihan. Melalui kegiatan ini, masyarakat Desa Karangjati diharapkan dapat melihat potensi limbah kain perca sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan. Keterampilan tapestry juga diharapkan menjadi bekal awal untuk mengembangkan usaha rumahan berbasis produk kreatif. HUMAS UNS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar